![]() |
Home |
|||||||
| Link : | ![]() |
| www.ganeshabizniz.com | |
| www.agribisnis-ganesha.com | |
![]() |
|
Membaca berita mengenai busung lapar – tentu ingat beras, membicarakan kemiskinan juga sangat berkaitan dengan beras !!! Beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia, namun sungguh ironis negeri yang memiliki tanah sangat subur dan pernah dijuluki ‘untaian zamrud di khatulistiwa’ ini sekarang menjadi pengimpor beras nomor wahid di dunia. Akan lebih memprihatinkan lagi bila melihat kehidupan para produsen beras ini yaitu para petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat miskin negeri yang buminya subur dan kaya raya ini. Dari beberapa kali dialog dengan masyarakat petani di Jawa Barat juga beberapa daerah lainnya di Indonesia, umumnya mereka sudah pasrah dan putus asa dengan kondisi pertanian ini dan untuk mempertahankan hidupnya banyak dari kalangan petani yang mencari usaha sampingan di kota besar misalnya dengan menjadi penarik beca, tukang gali dan berbagai profesi buruh kasar lainnya selama menunggu masa panen yang sudah tidak terlalu mereka harapkan lagi dan hasilnya hanya sekedar cukup untuk dimakan sendiri dan keluarganya saja. Bertani bagi mereka seolah-olah hanya menjadi sebagai suatu kebiasaan saja yang diturunkan leluhurnya dan sudah tidak bisa diharapkan untuk menjadi sandaran hidup lagi. Ditambah lagi dengan ketidaksadaran para petani terhadap bahaya yang mengancam kesehatan dirinya, keluarganya dan para pengguna produksinya serta lingkungan di sekitar termasuk tanah dan air akibat residu bahan kimia yang terhirup saat penyemprotan, terserap tanah dan yang tertinggal dalam air minum maupun makanan hasil pertaniannya. Tentunya ini bukan murni kesalahan para petani kita, mereka tidak mungkin mengatasi semua persoalan yang dihadapi di bidang pertanian ini tanpa bantuan dan kerjasama dari pihak-pihak yang berkompeten dengan memberikan solusi dan jalan keluar yang tepat untuk permasalahan yang dihadapi. Berangkat dari keprihatinan dan tantangan ini, para alumni ITB yang tergabung dalam Ganesha Entrepreneur Club/GEC mendirikan unit usaha dengan nama Ganesha Organic SRI (GO SRI) dan telah melakukan usaha-usaha dalam mengembangkan serta menyebarluaskan pola pertanian padi SRI Organik yang juga di kembangkan oleh pihak lain seperti Yayasan Aliksa Organic, DPKLTS dan lainnya. Pola pertanian padi SRI Organik (beras organik/organic rice) ini merupakan gabungan antara metoda SRI (System of Rice Intensification) yang pertamakali dikembangkan di Madagascar, dengan pertanian organik. Walaupun untuk saat ini ITB belum memiliki Fakultas Pertanian dan para alumni ini tidak satupun berlatar belakang secara formal dari bidang pertanian, tidak menjadikan hal ini sebagai suatu hambatan untuk turut serta dalam berkontribusi memperbaiki kondisi pertanian di Indonesia. Para personil utama GO SRI yang memang terjun ke bidang ini dengan landasan kecintaan terhadap dunia pertanian dan lingkungan hidup selain juga ada diantaranya memang berlatar belakang keluarga petani telah mempelajari metoda SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) ini dari berbagai pihak baik melalui pelatihan/kursus, seminar juga mengikuti dan terlibat secara langsung dalam proses pelaksanaan pertanian SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) dibeberapa lahan yang sudah melaksanakannya. Untuk menunjang kegiatan operasionalnya GO SRI merekrut sarjana lulusan fakultas pertanian dari beberapa Perguruan Tinggi yang ditempatkan sebagai Supervisor di lahan-lahan pertanian. Pemilihan pengembangan pola tanam padi SRI Organik untuk menghasilkan beras organik (organic rice) yang juga termasuk sebagai beras sehat (healthy rice) berdasarkan pertimbangan beberapa hal berikut : |
|