![]() |
Artikel |
|||||||
ARTIKEL / INFORMASI |
|
| Link : | Kebiasaan Baik Yang Ditinggalkan
|
| www.infoorganik.com | |
| www.agribisnisganesha.com |
Para petani dijaman dahulu biasanya sebelum melakukan penanaman bibit padi disawah melaksanakan suatu upacara ritual bersama terlebih dahulu. Demikian juga saat akan melakukan panen mereka mengadakan upacara sejenis. Upacara-upacara ini dapat dimaknai bahwa mereka mengakui adanya suatu kekuatan maha besar yang mengendalikan alam ini sehingga merasa perlu untuk mengadakan upacara sebelum tanam untuk memohon agar tanamannya dapat tumbuh subur dan hasilnya banyak serta dihindarkan dari segala gangguan, kemudian upacara sebelum panen sebagai ungkapan rasa syukur telah sampai kepada masanya untuk panen memetik hasil kerja kerasnya. Bahkan di negara maju sekelas Jepang pun tradisi untuk memohon dan mensyukuri ini masih melekat dalam kebiasaan para petani modern mereka saat ini, tentunya dengan cara mereka. Namun umumnya para petani Indonesia jaman sekarang sudah banyak yang meninggalkan kebiasaan ini karena sudah sangat tergantung kepada 'Tuhan' Urea dan Pestisida bukan kepada Tuhannya jagad alam. Mereka akan merasa tenang bila sudah mendapatkan urea sesuai kebutuhan mereka dan pestisida yang mereka idam-idamkan karena pada saat tersebut terkenal sangat manjur. Ungkapan seperti gambar liputan salah satu Stasiun TV yaitu Pupuk Hilang Petani Mati menggambarkan 'kebesaran pupuk urea' bagi para petani. Saya masih ingat di awal suatu pelatihan pertanian padi SRI Organik di Purwokerto sebelum memulai masuk ke materi pelatihan Pertanian Padi SRI Organik saya mempersilahkan para peserta untuk mengungkapkan pandangan mereka terhadap pertanian saat ini dan unek-unek mereka terlebih dahulu. Salah seorang peserta dengan lantang mengatakan 'Pak ma'af saya kesini untuk mengikuti pelatihan karena mendapat instruksi dari pengurus, sebenarnya bapak tidak usah susah-susah memberikan pelatihan kalau ingin masalah pertanian tuntas. Bagi kami cukup bapak jamin pupuk urea selalu ada saat kami butuhkan maka masalah pertanian akan beres......'. Tentunya pernyataan yang sangat memprihatinkan, namun alhamdulillah setelah pernyataannya tersebut saya respon dia sendiri akhirnya tertarik untuk mengikuti pelatihan sampai akhir untuk mencari solusi melepaskan diri dari belenggu ketergantungan terhadap pihak luar. |
| www.ganeshabizniz.com | |
Kadangkala para pendamping kami dari GO SRI sendiri pun khilaf karena menyepelekan hal ini. Saat saya sendiri berhalangan menghadiri saat penanaman, biasanya menginstruksikan pendamping GO SRI di lapangan untuk memimpin do'a bersama dengan seluruh petani yang terlibat dan membantu penanaman sebelum pelaksanaan penanamannya. Karena mungkin lupa, mereka menjawab 'sudah pak, saya tadi sendiri sudah berdo'a kok sehabis shalat shubuh'. Saya ingatkan kepada staf yang menjawab demikian bahwa memang kita harus memiliki keyakinan do'a kita akan dikabulkan tapi harus juga introspeksi apakah diri kita sudah pantas untuk merasa dekat dengan Yang Maha Kuasa atau merasa sholeh sehingga do'a kita dikabulkan tidak ditunda? Ya benar, mungkin ini karena bercermin kepada diri saya sendiri yang merasa sangat banyak memiliki kekurangan dan kelemahan. Tapi apabila kita mengajak para petani untuk ikut berdo'a bersama dengan kita sangat mungkin ada juga diantara mereka yang memang tergolong orang sholeh/sholehah, atau berdo'a dengan sangat ikhlas misalnya karena sangat senang dan lega membayangkan hari itu bisa memperoleh sedikit uang (mudah-mudahan kedepan menjadi 'cukup uang') dari upah menanam untuk sekedar usaha mengobati anaknya yang sakit, sehingga sangat mungkin terjadi keberhasilan panen nantinya adalah karena do'a orang lain selain dari usaha dan do'a yang kita lakukan. Ungkapan yang sangat biasa yang saya terima dari ibu-ibu petani yang membantu penanaman kalau sebelum tanam berkomunikasi dengan mereka melalui briefing dan do'a bersama adalah saat selesai penanaman mereka mengatakan 'nyanggahkeun mugia katampi padamelanna hapunten bilih seueuer kakiranganna sing hasil panenna' (saya serahkan pekerjaannya semoga bisa diterima mohon ma'af kalau masih banyak kekurangannya semoga nanti panennya berhasil). Kalaupun ternyata hasilnya belum seperti yang mereka do'akan tentu saja merupakan hal yang lumrah saja karena terkait banyak hal, tidak merupakan justifikasi bahwa upacara tersebut tidak ada gunanya. |
|
Sektor pertanian dan kelautan selama ini terkondisikan sebagai sektor yang identik dengan kebodohan, kemiskinan dan berderet label penderitaan lainnya sehingga lambat laun sekolah yang berbasis pertanian dan kelautan pun kosong ditinggalkan peminatnya bahkan para lulusan dari sekolah atau perguruan tinggi yang berbasiskan pertanian pun enggan berkecimpung di sektor pertanian secara langsung, hanya sekedar mengambil bagian sebagai pengamat, pemerhati, analis atau birokrat bidang pertanian saja untuk kepentingan mendapatkan penghidupan pribadi dan keluarganya saja. Keengganan mengelola sektor pertanian ini juga menjadi hal yang sangat biasa di kalangan petani sendiri, mereka melakukannya lebih karena sebagai suatu keterpaksaan karena akses untuk lapangan kerja lain tidak mereka miliki atau hanya karena terpaksa meneruskan pekerjaan orang tuanya untuk mengelola sawah yang terlanjur mereka miliki secara turun menurun, sangatlah jarang sekali petani yang mengharapkan keturunannya menjadi petani penerus mereka. Para petani lebih rela memilih untuk menjual sawahnya agar bisa membiayai sekolah anaknya sekedar hanya untuk mendapatkan gelar akademis sebagai suatu kebanggaan, yang bisa jadi gelar yang nanti diperoleh pun tidak memberikan produktifitas apa-apa atau menjual sawahnya untuk biaya anaknya masuk kerja di industri yang bisa jadi hanya bertahan 1 atau 2 tahun saja di pekerjaannya tersebut untuk kemudian kembali menganggur bahkan menjual sawah untuk biaya kerja anak atau istrinya ke luar negeri yang dikemudian hari bisa jadi mendapatkan penghinaan dan penyiksaan dari bangsa lain. |
|
Upacara sebelum tanam dan sebelum panen yang biasanya kami laksanakan sangatlah sederhana yaitu berdo'a bersama dan membaca al-fatihaah di area persawahan yang akan ditanami/dipanen. Kedepannya bila sudah merasa mampu untuk melaksanakannya, upacara sebelum tanam ini insya Allah akan kami perluas dengan penambahan mengadakan pengajian di masjid/mushala ba'da Isya sehari sebelum penanaman dan pemanenan kemudian dengan mengadakan penyerahan zakat pertanian kepada pengurus mesjid atau pemerintah setempat. Harapannya tradisi memohon dan bersyukur kepada yang Maha Kuasa yang sebenarnya merupakan kewajiban dan juga merupakan bagian dari sistem Pertanian Organik dapat dihidupkan lagi oleh seluruh masyarakat petani. Dengan seringnya para petani berkumpul bersama untuk tujuan yang baik ini juga merupakan pintu pembuka komunikasi antar mereka untuk menyelesaikan permasalahan yang ada seperti pembagian air irigasi, dsb. Akhirnya kebersamaan para petani juga akan mengokohkan ikatan mereka untuk membendung merajalelanya kaum kapitalis terutama yang kemungkinan akan berdatangan dari luar negeri dan menjadikan bangsa dan para petani kita hanya sekedar sebagai kuli-kuli mereka saja di negeri sendiri. |
|
| |
|
Utju Suiatna
Ganesha Organic SRI
|
|